Selasa, 15 Januari 2013

Tempat-Tempat Unik di Jogja

Mirota Batik Di Sudut Malioboro

Salah satu toko yang menurut saya sangat ethnic dan unik di Yogyakarta dan somehow saya merasakan ini merupakan salah satu landmark Yogya adalah Mirota Batik. Terletak di Malioboro, tepat sebelum penyebrangan menuju Benteng Vredeburg, toko ini menjual berbagai hal yang berbau Yogya atau lebih tepatnya kebudayaan jawa. Toko yang teramat unik ini menjual berbagai produk seperti produk kerajinan tangan yang sangat-sangat unik, sebut saja produk standard seperti kain batik, caping, hiasan bambu, patung loro blonyo, wayang-wayangan, kipas anyaman, jamu-jamuan, produk makanan hingga barang-barang unik seperti nasi aking instant, jamu dalam kendi mungil yang lucu, keris pusaka, orang membuat batik dengan canting dan malam, andong, seperangkat gong dan gamelan, boneka pasukan pengawal keraton, hingga barang-barang elektronik antik yang masih bisa difungsikan seperti radio tua, mesin ketik, kipas angin, dan sebagainya.
Toko yang terdiri atas 2 lantai ini sangatlah menarik. hampir semua barangnya -even anda tidak menyukai produk yang berbau ethnik- akan mudah untuk disukai, dan bahkan berpindah tangan…upss…bukan dicuri tapi dibelanjai.hehe…
di tengah ruangan ada tempat duduk, untuk melihat orang membuat batik. kemudian apabila anda membawa kamera, anda pasti akan ketagihan untuk berfoto disini karena semuanya yang anda lihat adalah antik dan unik. Harga barang yang menurut saya dan rekan saya cukup reasonable dan murah membuat toko ini tampak sangat tidak kehilangan daya tariknya. para pengunjung berjalan keluar masuk hilir mudik masuk ke dalam toko. harganya pun sudah harga toko sehingga memang tidak bisa ditawar lagi. Jadi, sekiranya anda mengira bahwa harganya cukup murah, silahkan dibawa ke kasir-kasir yang ramah khas Yogya dan membayar produk tersebut.
Walaupun di beberapa tempat ada tulisan yang berbau copet, tulisan tersebut bukan bertujuan membuat anda takut atau over protektif, namun lebih ditujukkan pada copet yang tidak bisa diterima di dalam toko ini. secara umum, anda akan bisa sangat leluasa untuk berbelanja sambil cucui mata melihat benda kerajinan jawa yang antik. sangat cocok untuk dijadikan destinasi wisata selama anda berada di Yogya. Jangan takut tersesat, di depan toko tersedia tumpukan peta kota Yogyakarta yang dapat anda bawa pulang sebagai panduan mengunjungi kota maenawan ini. Selamat datang di Mirota!

Beringharjo Market, Heart Of Yogyakarta

Tidak ada yang spesial maupun kunjungan khusus ketika memasuki kompleks pasar ini. Pasar ini menjadi salah satu pasar yang terkenal di Yogyakarta dan Indonesia bahkan karena gempa Yogya yang memilukan beberapa waktu lampau sempat meluluhlantakkan pasar ini. Kondisi pasar ketika saya dan kawan saya memasukinya masih dalam kondisi baik (so far, yang terlihat) mengingat kerusakan yang terjadi cukup parah pada pemberitaan beberapa waktu lampau di surat kabar manapun.
Kami memasuki Pasar ini pun sebenarnya selain bermaksud untuk potong jalan dari Taman Pintar ke Malioboro juga sekaligus melihat salah satu ikon Yogyakarta. Yang unik, ada papan petunjuk yang memberitahukan bahwa bagian-bagian tertentu terletak di lantai sekian pasar ini. Namun, tampaknya papan petunjuk tersebut dibuat sebelum gempa Yogya terjadi?
Ketika kami bermaksud untuk naik ke lantai 2 maupun 3 guna mencari majalah dan buku bekas, kami tidak menjumpai pedagang tersebut. kami justru mengalami pengalaman yang aneh kalau tidak dapat dikatakan ajaib. Pedagang di lantai atas menginginkan kami sesuatu. sesuatu itu adalah mereka menginginkan kami untuk membuat penawaran atas baju yang akan dijual. Kami disangka penjual baju baju bekas! bayangkan! asumsi saya, mereka yang tampak seperti pedagang pakaian bekas, bermaksud membeli baju-baju bekas dalam jumlah banyak guna dijual lagi. Namun, sekali lagi itu hanya perkiraan saya saja. mungkin benar bisa juga salah. Perkiraan lagi, ini berkaitan dengan kasus gempa besar yang melanda Yogya sehingga masyarakat sana mengalami krisis pakaian. Sekali lagi, ini hanya dugaan saya semata saja. mohon maaf apabila ada pihak yang tidak berkenan.
Namun, mengunjungi pasarv Beringharjo yang dapat ditembus dari Taman Pintar Yogya ke Malioboro memang sedikit autentik Yogya karena disinilah lokasi terbesar orang-orang di seantero Yogya berkumpul dan berinteraksi secara normal. Beberapa bule tampak berkeliaran mengisi sudut kota Yogya. Selain itu, tampak banyak pedagang emas, sayur mayur dan tentunya penganan kecil khas jawa tengah dan Yogyakarta yang mengisi ruang-ruang dan sudut di pasar ini. Hirup Autentiknya Yogya, hirup Pasar Beringharjo.

Pulang Ke Kotamu

“Pulang ke kotamu” mewarnai perjalanan saya dari Solo menuju Yogya dengan kereta Prameks seharga 7000 rupiah. Yap, saya sedang menuju Yogyakarta untuk pertama kalinya dalam hidup saya. Tujuannya? Tentu saja wilayah paling terkenal seantero Yogya yakni Jalan Malioboro.
Kereta menuju Yogya dari Solo dilayani dari beberapa Stasiun, namun saya memilih naik dari Stasiun Solojebres, dimana dekat dengan tempat penginapan saya. Hal yang sungguh berbeda antara kereta di Jakarta dengan kereta di Jawa, seperti contohnya Solo-Yogyakarta adalah kereta menjadi salah satu komoditas publik dan semua orang tampaknya senang menggunakan kereta. Tambahan lagi, bagian dalam kereta tampak sangat terawat dan rapih serta orang tidak berjejal apalagi sampai menaiki gerbong kereta guna pergi ke suatu tujuan. Sangat tidak manusiawi! Apabila keretanya terawat seperti di Solo, dengan senang hati saya akan naik kereta kemanapun saya pergi di Jakarta.
Perlu diketahui bahwa perjalanan menuju Yogyakarta dari Solo selain dengan kereta api, anda dapat menaiki bus dengan pilihan turun di Klaten untuk menikmati Prambanan. Namun, berhubung waktu yang terbatas, maka saya memilih Kereta Api seharga 7000 rupiah. Terlebih, kereta datang setiap hampir setengah jam sekali, sungguh memudahkan penumpang.
Kereta yang saya naiki bukanlah kereta baru. Namun, yang menyenangkan, kereta ini bentuknya seperti bus, jadi semua kursi menghadap ke depan. Sedikit berbeda dengan kereta kereta yang biasa saya naiki di Jakarta. Kereta yang berangkat pada pukul 8.35 pagi ini akan bertolak terlebih dahulu ke Palur, ujung paling timur dari lajur ini sebelum kembali lagi menuju Solojebres, Purwosari, Klaten, Lempuyangan dan terakhir Tugu di Yogyakarta, tempat saya akan turun nantinya. Seperti yang sudah diceritakan sebelumnya, sepenuh-penuhnya isi penumpang kereta, terutama mahasiswa yang kuliah di Yogyakarta, semuanya nampak rapih dan teratur. Tidak ada saling desak-desakan ataupun berbuat yang aneh-aneh seperti menaiki atap gerbong.
Kurang lebih hampir pukul 10, saya sampai di Yogyakarta. Tentu, kamera sudah siap di tangan untuk mengabadikan bahwa saya telah berkunjung ke kota ini. Tak dapat dipungkiri, selepas keluar dari stasiun, banyak sekali objek-objek menarik yang dapat difoto, antara lain rupa stasiun Tugu sendiri, tugu jam, gerbang Yogyakarta Kota Wisata, rel kereta yang tiba-tiba menyeruak ke jalan raya, dan tentunya Jalan Malioboro!
Jalan Malioboro adalah Jalan Raya dengan Jalur cepat dan jalur Lambat membentang dari arah utara, tepat dari Stasiun Tugu menuju ke arah selatan. Di sisi kanan kiri jalan ini, anda bisa melihat deretan toko-toko yang menjual berbagai pernah pernik belanja, dan terutama oleh-oleh. Sebut saja toko baju, toko kerajinan, toko barang antik, toko makanan dan lainnya. Di samping itu, terdapat Hotel seperti hotel Inna, Mall Malioboro, dan Toko kerajinan tangan seperti Mirota Batik dan tentu saja Dagadu Djogja!
sampai di Yogya siang hari tentu berbeda dengan suasana Yogya Malioboro pada malam hari. Konon, di malam hari, penjual makanan akan memenuhi kanan dan kiri jalanan dan barulah anda merasakan spirit of malioboro yang sesungguhnya. Di siang hari, kanan dan kiri jalan dipenuhi oleh para pedagang kaus dan pakaian terutama yang khas Yogya, perhiasan etnik seperti kalung, gelang, cincin,kerajinan tangan dan benda oleh-oleh dan tentunya cemilan khas Yogya seperti Bakpia Pathok yang terkenal itu, juga lanting, getuk, semar mendem, dan macam macam angkringan.
Jalan Malioboro yang terkenal ini memang membentang hingga Monumen Serangan Umum 1 Maret. Jalan ini akan sangat mudah dikenali, terutama dengan adanya hiasan gunungan yang berjejer di tengah-tengah jalan. Di sebelah monumen, anda dapat berkunjung ke salah satu benteng bekas peninggalan Belanda yang sudah cukup tua yakni Benteng Vredeburg.
Inilah Jiwa dari Yogya, bahkan ada ungkapan, belum ke Yogya jika anda belum ke Malioboro. Anda dapat dengan mudah menikmati berbagai panggung kehidupan di Jalanan, mulai dari para penjaja makanan, pakaian, hingga sopir taksi ataupun abang becak. berbagai jenis makanan akan tampak menarik minat anda terutama yang dijajakan di kiri dan kanan jalan.
Sebagai informasi, Jalan Malioboro ini terkenal dengan copetnya. bukan bermaksud untuk menakut-nakuti, namun sebaiknya anda tetap berhati-hati dan waspada serta mengusahakan agar barang bawaan diletakkan di depan dan dalam satu area pengawasan jadi lebih mudah untuk diawasi. Satu hal lagi yakni beberapa atau bahkan hampir semua abang becak yang berada di Malioboro akan tampak sangat mengganggu terlebih bila anda memutuskan untuk berkeliling Malioboro dengan berjalan kaki. Walaupun niat mereka baik, bahkan terkadang ada yang sampai banting harga hingga 3000 rupiah untuk mengantar dari Tugu ke Benteng dan Tamansari, mereka akan cukup menganggu dan memaksa anda hingga anda naik becak mereka. Beberapa dari mereka bahkan terlalu ramah ke turis sampai memberikan informasi tempat wisata dan lainnya hingga anda tak enak hati dan naik becak mereka. Memang bagus untuk wajah pariwisata, namun untuk turis yang memilih berjalan kaki untuk menikmati Malioboro, maka ini akan jadi preseden yang buruk. Sedikit saran, apabila anda memang tidak tertarik sama sekali, jangan tunjukkan ketertarikan ataupun berbicara dengan mereka. Cukup katakan terima kasih sambil berlalu agar mereka mengerti bahwa anda benar-benar tidak menginginkan untuk menggunakan jasa mereka.