Mirota Batik Di Sudut Malioboro
Toko yang terdiri atas 2 lantai ini sangatlah menarik. hampir semua barangnya -even anda tidak menyukai produk yang berbau ethnik- akan mudah untuk disukai, dan bahkan berpindah tangan…upss…bukan dicuri tapi dibelanjai.hehe…
di tengah ruangan ada tempat duduk, untuk melihat orang membuat batik. kemudian apabila anda membawa kamera, anda pasti akan ketagihan untuk berfoto disini karena semuanya yang anda lihat adalah antik dan unik. Harga barang yang menurut saya dan rekan saya cukup reasonable dan murah membuat toko ini tampak sangat ti
Walaupun di beberapa tempat ada tulisan yang berbau copet, tulisan tersebut bukan bertujuan membuat anda takut atau over protektif, namun lebih ditujukkan pada copet yang tidak bisa diterima di dalam toko ini. secara umum, anda akan bisa sangat leluasa untuk berbelanja sambil cucui mata melihat benda kerajinan jawa yang antik. sangat cocok untuk dijadikan destinasi wisata selama anda berada di Yogya. Jangan takut tersesat, di depan toko tersedia tumpukan peta kota Yogyakarta yang dapat anda bawa pulang sebagai panduan mengunjungi kota maenawan ini. Selamat datang di Mirota!
Beringharjo Market, Heart Of Yogyakarta
Tidak ada yang spesial maupun kunjungan khusus ketika memasuki
kompleks pasar ini. Pasar ini menjadi salah satu pasar yang terkenal di
Yogyakarta dan Indonesia bahkan karena gempa Yogya yang memilukan
beberapa waktu lampau sempat meluluhlantakkan pasar ini. Kondisi pasar
ketika saya dan kawan saya memasukinya masih dalam kondisi baik (so far,
yang terlihat) mengingat kerusakan yang terjadi cukup parah pada
pemberitaan beberapa waktu lampau di surat kabar manapun.
Kami memasuki Pasar ini pun sebenarnya selain bermaksud untuk potong jalan dari Taman Pintar ke Malioboro juga sekaligus melihat salah satu ikon Yogyakarta. Yang unik, ada papan petunjuk yang memberitahukan bahwa bagian-bagian tertentu terletak di lantai sekian pasar ini. Namun, tampaknya papan petunjuk tersebut dibuat sebelum gempa Yogya terjadi?
Ketika
kami bermaksud untuk naik ke lantai 2 maupun 3 guna mencari majalah dan
buku bekas, kami tidak menjumpai pedagang tersebut. kami justru
mengalami pengalaman yang aneh kalau tidak dapat dikatakan ajaib.
Pedagang di lantai atas menginginkan kami sesuatu. sesuatu itu adalah
mereka menginginkan kami untuk membuat penawaran atas baju yang akan
dijual. Kami disangka penjual baju baju bekas! bayangkan! asumsi saya,
mereka yang tampak seperti pedagang pakaian bekas, bermaksud membeli
baju-baju bekas dalam jumlah banyak guna dijual lagi. Namun, sekali lagi
itu hanya perkiraan saya saja. mungkin benar bisa juga salah.
Perkiraan lagi, ini berkaitan dengan kasus gempa besar yang melanda
Yogya sehingga masyarakat sana mengalami krisis pakaian. Sekali lagi,
ini hanya dugaan saya semata saja. mohon maaf apabila ada pihak yang
tidak berkenan.
Namun, mengunjungi pasarv Beringharjo yang dapat ditembus dari Taman Pintar Yogya ke Malioboro memang sedikit autentik Yogya karena disinilah lokasi terbesar orang-orang di seantero Yogya berkumpul dan berinteraksi secara normal. Beberapa bule tampak berkeliaran mengisi sudut kota Yogya. Selain itu, tampak banyak pedagang emas, sayur mayur dan tentunya penganan kecil khas jawa tengah dan Yogyakarta yang mengisi ruang-ruang dan sudut di pasar ini. Hirup Autentiknya Yogya, hirup Pasar Beringharjo.
Kami memasuki Pasar ini pun sebenarnya selain bermaksud untuk potong jalan dari Taman Pintar ke Malioboro juga sekaligus melihat salah satu ikon Yogyakarta. Yang unik, ada papan petunjuk yang memberitahukan bahwa bagian-bagian tertentu terletak di lantai sekian pasar ini. Namun, tampaknya papan petunjuk tersebut dibuat sebelum gempa Yogya terjadi?
Namun, mengunjungi pasarv Beringharjo yang dapat ditembus dari Taman Pintar Yogya ke Malioboro memang sedikit autentik Yogya karena disinilah lokasi terbesar orang-orang di seantero Yogya berkumpul dan berinteraksi secara normal. Beberapa bule tampak berkeliaran mengisi sudut kota Yogya. Selain itu, tampak banyak pedagang emas, sayur mayur dan tentunya penganan kecil khas jawa tengah dan Yogyakarta yang mengisi ruang-ruang dan sudut di pasar ini. Hirup Autentiknya Yogya, hirup Pasar Beringharjo.
Pulang Ke Kotamu
Kereta menuju Yogya dari Solo dilayani dari beberapa Stasiun, namun saya memilih naik dari Stasiun Solojebres, dimana dekat dengan tempat penginapan saya. Hal yang sungguh berbeda antara kereta di Jakarta dengan kereta di Jawa, seperti contohnya Solo-Yogyakarta adalah kereta menjadi salah satu komoditas publik dan semua orang tampaknya senang menggunakan kereta. Tambahan lagi, bagian dalam kereta tampak sangat terawat dan rapih serta orang tidak berjejal apalagi sampai menaiki gerbong kereta guna pergi ke suatu tujuan. Sangat tidak manusiawi! Apabila keretanya terawat seperti di Solo, dengan senang hati saya akan naik kereta kemanapun saya pergi di Jakarta.
Perlu diketahui bahwa perjalanan menuju Yogyakarta dari Solo selain dengan kereta api, anda dapat menaiki bus dengan pilihan turun di Klaten untuk menikmati Prambanan. Namun, berhubung waktu yang terbatas, maka saya memilih Kereta Api seharga 7000 rupiah. Terlebih, kereta datang setiap hampir setengah jam sekali, sungguh memudahkan penumpang.
Kereta yang saya naiki bukanlah kereta baru. Namun, yang menyenangkan, kereta ini bentuknya seperti bus, jadi semua kursi menghadap ke depan. Sedikit berbeda dengan kereta kereta yang biasa saya naiki di Jakarta. Kereta yang berangkat pada pukul 8.35 pagi ini akan bertolak terlebih dahulu ke Palur, ujung paling timur dari lajur ini sebelum kembali lagi menuju Solojebres, Purwosari, Klaten, Lempuyangan dan terakhir Tugu di Yogyakarta, tempat saya akan turun nantinya. Seperti yang sudah diceritakan sebelumnya, sepenuh-penuhnya isi penumpang kereta, terutama mahasiswa yang kuliah di Yogyakarta, semuanya nampak rapih dan teratur. Tidak ada saling desak-desakan ataupun berbuat yang aneh-aneh seperti menaiki atap
Kurang lebih hampir pukul 10, saya sampai di Yogyakarta. Tentu, kamera sudah siap di tangan untuk mengabadikan bahwa saya telah berkunjung ke kota ini. Tak dapat dipungkiri, selepas keluar dari stasiun, banyak sekali objek-objek menarik yang dapat difoto, antara lain rupa stasiun Tugu sendiri, tugu jam, gerbang Yogyakarta Kota Wisata, rel kereta yang tiba-tiba menyeruak ke jalan raya, dan tentunya Jalan Malioboro!
Jalan Malioboro adalah Jalan Raya dengan Jalur cepat dan jalur Lambat membentang dari arah utara, tepat dari Stasiun Tugu menuju ke arah selatan. Di sisi kanan kiri jalan ini, anda bisa melihat deretan toko-toko yang menjual berbagai pernah pernik belanja, dan terutama oleh-oleh. Sebut saja toko baju, toko kerajinan, toko barang antik, toko makanan dan lainnya. Di samping itu, terdapat Hotel seperti hotel Inna, Mall Malioboro, dan Toko kerajinan tangan seperti Mirota Batik dan tentu saja Dagadu Djogja!
sampai di Yogya siang hari tentu berbeda dengan suasana Yogya Malioboro pada malam hari. Konon, di malam hari, penjual makanan akan memenuhi kanan dan kiri jalanan dan barulah anda merasakan spirit of malioboro yang sesungguhnya. Di siang hari, kanan dan kiri jalan dipenuhi oleh para pedagang kaus dan pakaian terutama yang khas Yogya, perhiasan etnik seperti kalung, gelang, cincin,kerajinan tangan dan benda oleh-oleh dan tentunya cemilan khas Yogya seperti Bakpia Pathok yang terkenal itu, juga lanting, getuk, semar mendem, dan macam macam angkringan.
Jalan Malioboro yang terkenal ini memang membentang hingga Monumen Serangan Umum 1 Maret. Jalan ini akan sangat mudah dikenali, terutama dengan adanya hiasan gunungan yang berjejer di tengah-tengah jalan. Di sebelah monumen, anda dapat berkunjung ke salah satu benteng bekas peninggalan Belanda yang sudah cukup tua yakni Benteng Vredeburg.
Inilah Jiwa dari Yogya, bahkan ada ungkapan, belum ke Yogya jika anda belum ke Malioboro. Anda dapat dengan mudah menikmati berbagai panggung kehidupan di Jalanan, mulai dari para penjaja makanan, pakaian, hingga sopir taksi ataupun abang becak. berbagai jenis makanan akan tampak menarik minat anda terutama yang dijajakan di kiri dan kanan jalan.
Sebagai informasi, Jalan Malioboro ini terkenal dengan copetnya. bukan bermaksud untuk menakut-nakuti, namun sebaiknya anda tetap berhati-hati dan waspada serta mengusahakan agar barang bawaan diletakkan di depan dan dalam satu area pengawasan jadi lebih mudah untuk diawasi.